2047 x Dilihat
Di Jakarta, Menhub Budi Tetap Lakukan Lobi untuk Galang Dukungan Jadi Anggota Dewan ICAO Kategori III
JAKARTA – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tetap melakukan pertemuan dengan beberapa negara untuk menggalang dukungan menjadi Anggota Dewan International Civil Aviation Organization (ICAO) Kategori III Periode 2016-2019. “Setiap hari saya bertemu dengan perwakilan dari beberapa negara seperti Inggris dan Spanyol misalnya dan hari ini bertemu dengan Swedia,” jelas Menhub Budi ketika melakukan penandatanganan Letter of Intent dengan Menteri Perdagangan dan Urusan Uni Eropa Swedia, Ann Linde terkait kerjasama bidang transportasi di Kantor Kementerian Perhubungan, Selasa (4/10).
Menhub menambahkan, Indonesia mengupayakan hubungan baik dengan negara-negara tersebut berdasarkan prinsip timbal balik.
Terkait pencalonan Indonesia sebagai anggota dewan ICAO kategori 3, Menhub menyatakan modal dan kerja keras Indonesia dalam memenuhi standar keselamatan dan keamanan penerbangan ICAO untuk menjadi Anggota Dewan sudah maksimal. “Terpilih atau tidak terpilih, saya tetap memandang ICAO sebagai organisasi yang penting. Oleh karena itu, saya akan menugaskan 4 BUMN dan beberapa swasta untuk menugaskan stafnya yang kompeten untuk menjadi diplomat aviasi karena kegiatan aviasi juga membutuhkan diplomasi,” jelas Menhub.
Menhub menjelaskan dukungan untuk Indonesia secara lisan sudah disampaikan oleh banyak negara namun Menhub tidak mau terlalu percaya diri. “Banyak negara sudah menyampaikan dukungannya kepada saya tapi ini adalah hal diplomatis jadi apapun bisa terjadi. Oleh karena itu, saya mohon doa dari semua pihak,” ujar Menhub.
Menhub menegaskan saat ini Indonesia sudah masuk Kategori 1 Federal Aviation Administration (FAA) sehingga maskapai Indonesia mempunyai hak yang sama untuk terbang ke Amerika Serikat. Pencapaian lainnya, Menhub menambahkan, Indonesia telah memenuhi 95% standar ICAO tentang keamanan penerbangan. Selain itu, pada awal tahun 2016, Indonesia diterima menjadi anggota Committee of Aviation Environmental Protection dan secara aktif berpartisipasi dalam negosiasi Global Market Based Measures Scheme untuk mengurangi emisi CO2.
Sementara itu di Montreal, kemarin Senin (3/10), delegasi Indonesia dengan dipimpin oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Suprasetyo melaksanakan pertemuan dengan DG Mobility and Transport (DG MOVE) European Union (EU) Mr. Henrik Hololei. Dalam pertemuan tersebut, EU menyampaikan Indonesia adalah negara yang sangat penting di bidang penerbangan sipil di kawasan Asia Pasifik dengan pertumbuhan sangat pesat dan EU memberikan appresiasinya terhadap kemajuan penerbangan Indonesia di bidang keselamatan, keamanan dan khususnya masalah lingkungan.
“Bentuk dukungan EU adalah dengan telah lolosnya 7 maskapai Indonesia dari larangan terbang di kawasan Eropa dan ini akan terus kita tingkatkan,” jelas Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo setelah pertemuan tersebut. Selain itu, EU juga mengharapkan Indonesia semakin efisien dalam mengelola tanggungjawabnya terhadap keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan di bidang penerbangan sipil.
Suprasetyo menjelaskan, terkait perlindungan lingkungan penerbangan, EU memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Indonesia yang secara resmi menyatakan secara sukarela (voluntarary) bergabung dalam phase 1 Global Market Based Measures (MBM) scheme. Hal Ini sangat penting artinya dalam upaya bersama untuk mengurangi emisi CO2 dari penerbangan secara global.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas kerjasama antara ASEAN dan EU. “Negosiasi diharapkan sesegera mungkin dapat dibuka dan diintensifkan kembali dalam rangka menciptakan framework secara menyeluruh dalam bidang penerbangan sipil,” jelas Suprasetyo.
Selain dengan EU, delegasi Indonesia juga melakukan pertemuan dengan President African Civil Aviation Commission (AFCAC) asal Mesir, Mr.Hany Eladawy dan Sekjen AFCAC, Madame Sosina asal Nigeria di Kantor Kepentingan Indonesia pada ICAO (KKIP) di Montreal.
“Mereka khusus datang ke KKIP untuk mengucapkan terimakasih atas dukungan Indonesia pada AFI Plan dan undangan pendidikan dan pelatihan bagi negara-negara Afrika serta Indonesia akan terus mendukung negara-negara Afrika serta AFI Plan dari Indonesia akan berlanjut, apalagi bila Indonesia masuk menjadi Anggota Dewan,” tegas Suprasetyo.
Pertemuan tersebut juga membicarakan kemungkinan kerjasama antara Indonesia dengan Afrika Selatan terkait air service agreement. “Indonesia berkomitmen untuk membantu Afrika Selatan dalam peningkatan capacity building di bidang penerbangan sipil, pertukaran informasi, investigasi kecelakaan, dan operasional bandara dan pihak Afrika Selatan memberikan apresiasi atas bantuan dan dukungan Indonesia terhadap penerbangan sipil Afrika melalui AFI Plan,” tegas Suprasetyo.
Sidang Majelis ICAO ke-39 dimulai pada Selasa (27/9) dan berlangsung sampai 7 Oktober 2016. Sedangkan Pemilihan Anggota Dewan ICAO Kategori III akan dilaksanakan pada Selasa, 4 Oktober 2016. Pada Sabtu (1/10), telah dilangsungkan pemilihan Anggota Dewan ICAO Kategori I dan Kategori II dan telah terpilih untuk Kategori I yaitu negara yang memiliki peran penting di dalam dunia penerbangan terdiri dari Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat. Sementara Kategori II yaitu negara yang memiliki kontribusi besar dalam fasilitas keselamatan penerbangan sipil telah terpilih, Argentina, Kolombia, Mesir, India, Irlandia, Meksiko, Nigeria, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, Spanyol dan Swedia. (JO)